Cerita Sex Cinta Sejati – Part 30

Cerita Sex Cinta Sejati – Part 30by on.Cerita Sex Cinta Sejati – Part 30Cinta Sejati – Part 30 Bagian 18 I Just Cant Stop This Feeling Anymore (2) Bang Nizam mengantarkan aku kembali ke hotel pada pukul tujuh malam, dan setelah berjanji untuk bertemu esoknya jam sembilan di lobby, aku berpisah dengan bang Nizam. Aku melangkahkan kakiku menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamarku. Saat itu ada 4 […]

multixnxx-Black hair, Short hair, Face-sitting, Asia-0 multixnxx-Black hair, Short hair, Face-sitting, Asia-1 multixnxx-Black hair, Short hair, Face-sitting, Asia-2Cinta Sejati – Part 30

Bagian 18
I Just Cant Stop This Feeling Anymore (2)

Bang Nizam mengantarkan aku kembali ke hotel pada pukul tujuh malam, dan setelah berjanji untuk bertemu esoknya jam sembilan di lobby, aku berpisah dengan bang Nizam.

Aku melangkahkan kakiku menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamarku. Saat itu ada 4 orang yang bertugas, 3 wanita dan 1 pria.

Malam, mbak kataku pada resepsionis yang menyambutku.

Selamat malam, Bapak Ada yang bisa kami bantu? jawabnya ramah sambil tersenyum manis. Aku melihat nametagnya, Natasha. Hhmm.. Nama yang cantik, secantik orangnya.

Saya mau ambil kunci kamar 819 jawabku tersenyum.

Baik Maaf dengan bapak siapa? tanyanya.

Raka jawabku.

Mohon ditunggu sebentar Bapak Raka katanya sambil mengecek komputer di depannya dan kemudian menyerahkan kunci kamar kepadaku.

Silahkan, Bapak Selamat beristirahat katanya ramah.

Terimakasih, mbak kataku sambil mengambil kunci dan melangkah pergi menuju lift.

Di kamar, aku segera mandi setelah penat juga keliling kota seharian. Setelah mandi aku bermaksud nongkrong sebentar di lounge. Setelah mengenakan pakaian yang pantas, aku bawa androidku lengkap dengan powerbank, aku bermaksud menghabiskan sisa malam ini di lounge sampai ngantuk.

Jam delapan malam aku turun kembali di lobby dan melangkah ke lounge, yang suasananya cukup baik menurutku. Sekilas aku menatap ke arah resepsionis, tampak Natasha masih berdiri disana bersama seorang rekan wanitanya dan tersenyum ramah padaku. Alunan musik jazz berirama lembut dari loudspeaker semakin mantap dengan cahaya kekuningan dari tatanan lampu. Aku duduk sendiri di meja agak pojok, menikmati secangkir kopi hitam dan beberapa potong kue.

Aku mulai memainkan androidku, browsing sana-sini. Tak terasa setengah jam berlalu.

Selamat malam, Bapak Raka Mohon maaf mengganggu waktu santainya Boleh minta waktunya sebentar, pak? sapa seorang wanita padaku. Aku menoleh dan menatap sang penyapa yang tersenyum ramah padaku. Ah, rupanya salah satu resepsionis yang tadi aku lihat, wanita yang berdiri disamping Natasha.

Iya, mbak. Silakan Gak apa-apa kok jawabku tersenyum menatapnya dan mempersilahkannya duduk.

Wanita ini, atau lebih tepatnya gadis ini bila aku melihat usianya dari penampilan wajahnya, mengangguk ramah mengucapkan terimakasih, dan menarik kursi di hadapanku dan duduk dengan anggunnya. Wajahnya cantik sekali, perpaduan kecantikan yang pas dengan usianya dan sisa keimutan masa remajanya, dan kulitnya putih bersih. Rambut berponi hitam lurusnya menyempurnakan penampilan wajahnya. Wajah yang sangat menyenangkan untuk ditatap berlama-lama. Aku melihat nametag yang terpasang rapi di dada kanannya yang cukup membusung walau posturnya tinggi langsing. Rossa.

Rossa yang cantik, pikirku tersenyum.

Mohon maaf, Bapak Raka Saya hanya ingin mengkonfirmasi katanya lembut, tersenyum menatapku. Pada awal booking Bapak memesan untuk menginap dua hari. Kami ingin menanyakan apakah Bapak akan menambah waktu menginap Bapak atau tetap dengan rencana Bapak untuk check-out besok?

Tergantung kamu, Rossa jawabku tersenyum sambil menggodanya.

Rossa agak terkejut mendengar jawabanku. Aku jadi agak menyesal sendiri, jawabanku kesannya seperti ingin mengajak Rossa menginap. Godaan khas penjahat kelamin. Buru-buru aku melanjutkan ucapanku.

Jika kamu mau memanggil saya dengan Raka saja gak sebutan Bapak, saya rencananya mau menginap satu malam lagi Lagi pula sepertinya usia kita gak beda jauh deh, walau masih tua saya kataku berusaha seramah mungkin sambil menebarkan senyum menutupi kesalahan ucapanku sebelumnya. Syukurlah, Rossa kembali bisa menguasai dirinya dan tersenyum ramah.

Kalo Mas, boleh? tanyanya dengan wajah yang tersenyum.

Mas. Boleh deh dari pada bapak-bapak jawabku tertawa.

Ocha

Aku agak mengerutkan kening, telat nyambung

Mas panggil saya Ocha. Kalo masih manggil Rossa, saya balik manggil Bapak lagi

Aku tertawa, baru nyambung

Oke Ocha Lebih enak memang kalo manggilnya Ocha kataku sambil tertawa.

Mas Raka nginep di sini sendiri aja? Rossa tampak mulai bisa santai, cara duduknya pun sedikit lebih rileks.

Iya nih, kebeneran jalan sendiri jawabku. Eh iya, Ocha mau minum? Biar saya pesenin sekalian, temenin saya ngobrol Bete juga sendirian terus

Makasih, Mas Ocha masih tugas. Jawabnya ramah. Trus gimana, Mas masih mau nginep apa gimana? katanya kembali ke pokok permasalahan.

Belum tahu juga, nih Tergantung besok.. Kalo selesai urusannya mungkin langsung check-out jawabku.

Check-outnya jam dua siang kok, mas kata Ocha.

Kalo saya ngabarin sekitar jam satu siang, boleh?

Kalo bisa lebih pagi, Mas soalnya tadi ada rombongan yang mau booking kamar agak banyak buat besok sore, makanya Ocha lagi ngumpulin data kamar mana aja yang mungkin available

Jam sepuluh?

Kalo jam sepuluh masih oke Mas, bagus malah

Saya kabarin Ocha deh nanti kataku.

Tapi besok Ocha shiftnya jam segini lagi mas, dari jam satu siang sampe jam delapan malam kata Ocha.

Aku melirik jam tanganku, Wah, kalo gitu harusnya udah pulang, dong kataku menatapnya, tapi malah nyangkut disini nenemin Mas ngobrol

Gak apa kok, Mas Ini memang tugas Ocha terakhir hari ini, habis ini langsung pulang, kok katanya tersenyum. Aku senang aja ngeliatnya, Ocha kalo ngomong sambil senyum terus, makin cantik aja, hehe
Kalo gitu Mas akan kabari jam sepuluh pagi, Cha kataku memastikan.

Kalo gak gini aja, deh.. Aku minta nomor hape Mas aja, biar nanti aku yang nelpon Mas Raka jam sepuluh pagi Maaf lho ini, mas gak apa apa kan Ocha minta nomor hape Mas? Soalnya, yang mau pesen kamar ini rombongannya ramai, mas anggota dewan dari propinsi manaaa gitu Kamar yang mau di pakai juga lumayan banyak dan semua minta dari rates yang Mas Raka pakai Ocha pengennya sih kalo bisa lebih cepat beres masalah pesanannya ini Tau sendiri kan mas, kalo anggota dewan gitu rewelnya kayak apa cerocos Ocha panjang lebar yang herannya tetap aja cantik ngeliat bibirnya ngoceh gitu. Aku sampai tersenyum geli melihat kelakuan si Ocha.

Iiih Mas Raka ini kok malah ngetawain Ocha, sih karena melihat aku senyum senyum si Ocha sampai manyun sendiri, malu dia haha

Habis lucu, sih ada ya cewek yang lagi ngoceh tapi masih aja keliatan cakep

Wajah Ocha yang putih bersih, bersemu merah seketika. Tangannya bergerak cepat memberikan cubitan ke tanganku yang terjangkau oleh uluran tangannya dari atas meja.

Iiih Mas Raka ini Gombal! Aku makin ngakak. Mana sini, Ocha minta nomor hape Mas katanya mengalihkan pembicaraan supaya aku berhenti tertawa.

Aku menyebutkan nomor hapeku, dan Ocha langsung misscall dari hapenya. Kami saling save nomor hape masing-masing.

Kalo Mas udah dapet kepastian, Mas yang langsung ngabarin Ocha kataku setelah menyimpan nomor hape Ocha.

Iya Mas Makasih banyak, ya kata Ocha sambil tersenyum. Kalo gitu Ocha permisi dulu ya, Mas pamitnya.

Sip jawabku sambil tersenyum.

Ocha kemudian berdiri, dan setelah pamit padaku kembali dia melangkah menuju meja resepsionis. Aku menatap tubuh jangkungnya melangkah meninggalkanku, yang ternyata begitu putih, betisnya yang berbentuk indah tampak putih mempesona, belum lagi goyangan pantatnya ketika melangkah. Mempesona.

Anak yang cantik, pikirku

Tiba-tiba langkah Ocha yang baru separuh jalan dari mejaku ke meja resepsionis terhenti, tanganya merogoh saku blazernya, dan mengeluarkan hapenya dan mulai berbicara. Aku masih menatapnya ketika dari belakang aku melihat perubahan gesture tubuh Ocha, bahunya turun dan tampak lemas, kepalanya menunduk sambil terus berbicara di hape.

Pasti karena pembicaraannya, pikirku. Mungkin kabar yang gak baik, jika melihat dari bahasa bahasa tubuh Ocha.

Sambil masih berbicara di hape, Ocha melangkah perlahan ke arah meja resepsionis. Menyerahkan berkas yang dibawanya pada Natasha begitu saja, dan menghilang di ruangan yang berada di belakang mejanya itu.

Aku mengangkat bahu, dan kembali sibuk dengan androidku.
Segelas kopi sudah habis setengah, dua donat dan pastry telah masuk ke perutku. Setengah jam aku browsing tentang kota Palembang, termasuk rute dari hotel ke kantor Pipit yang ternyata tidak begitu jauh.

Aku masih belum bisa membayangkan, apa yang akan terjadi esok. Akankah aku tinggal lebih lama di Palembang ini, atau besok segera pulang.

Semua tergantung pada tanggapan yang akan diberikan Pipit jika besok kami sampai bertemu.
Aku melirik jam tanganku. Sudah setengah sepuluh malam.

Aku menghabiskan minumanku, dan melangkah menuju halaman depan untuk merokok barang sebatang. Aku melangkah perlahan memutari halaman hotel sekedar menghabiskan rokokku.

Sebuah SMS masuk ke hapeku. Ocha, ketika aku melihat nama pengirimnya.

Mas Raka masih di lounge?

Aku tekan tombol dial, malas membalasnya dengan SMS juga. Dua kali nada sambung, Ocha mengangkat panggilanku.

Iya Mas Raka jawab Ocha. Nada suaranya samasekali berubah, tidak ceria seperti tadi.

Ada apa, Cha

Mas masih lounge?

Gak, Cha Lagi di halaman depan, nih Sekedar merokok sebatang sebelum balik ke kamar Ada apa Cha? Kamu belum pulang? Udah selesai kan shiftnya? Atau kamu mau nyuruh mas check out sekarang, ya. Hehe candaku.

Udah selesai, Mas Ini udah mau pulang, kok.jawab Ocha. Gak kok, Mas Masa iya Ocha mau ngusir Mas Raka hehe kekehnya, walau masih jelas banget terdengar gak ceria.

Trus ada apa dong?

Hhmmmmm aduh, gimana ya Ocha jadi gak enak nih katanya lirih. Mas Mohon maaf sebelumnya Hhmm Gini Aduh gimana ya ngomongnya. katanya dengan nada bicara yang sangat ragu-ragu.

Aku diam menunggunya bicara lagi, sambil otakku menerka ada apa gerangan.

Mas

Iyaa.

Hhmmm. Kalo Ocha pengen ketemu Mas, boleh gak? Ngerepotin atau ngegganggu gak, Mas tanya masih dengan penuh keraguan. Ocha ada sesuatu yang ingin Ocha bicarakan sama Mas, tapi ini tentang Ocha pribadi, Mas, bukan masalah hotel Ini juga kalo Mas gak keberatan, lho.

Aku tidak berfikir lagi apa yang akan dibicarakan Ocha.

Boleh Gak apa-apa kok, samasekali gak masalah kalo Ocha mau ketemu, Mas juga lagi gak ngapa-ngapain nih Cuma nunggu ngantuk aja jawabku.

Makasih banyak sebelumnya, Mas Ocha ngerasa gak enak banget nih Pasti ngerepotin banget buat Mas

Udah gak usah mikir gitu, ah jawabku mencoba menceriakannya. Sekarang Ocha dimana? Mau ketemu ama Mas dimana?

Ocha masih di parkiran staff, Mas di belakang tadinya udah mau pulang kata Ocha perlahan. Kalo di kamar Mas aja boleh, gak?

Boleh, boleh aja kalo mau di kamar Mas Tapi apa kamu yakin gak akan masalah kalo kita ketemunya di kamar Mas?

Gak apa-apa kok, Mas Asal jangan sampe ketemu karyawan lain yang bawel aja katanya pelan, agak ragu nada suaranya. Nanti Ocha pakai lift staff aja ke sananya, semoga gak ketemu ama staff lain

Oke kalo gitu, Cha Sekarang? tanyaku.

Minta waktu sepuluh menit ya, Mas kata Ocha yang aku pahami maksudnya agar dia bisa berhati-hati untuk mencapai kamarku tanpa diketahui oleh staff hotel lainnya. Walau pun alasannya jelas, kunjungan staff wanita hotel ke kamar tamu di luar jam kerja pasti akan mengundang pertanyaan berbagai pihak.

Oke, Cha Mas langsung ke kamar sekarang, ya

-oOo-

Aku membuka pintu kamarku setelah mendengar suara ketukan halus. Begitu pintu aku buka, aku mempersilahkan Ocha masuk dan dia langsung menyelinap ke dalam kamarku dengan cepat. Aku menutup pintu kamarku dan menguncinya. Ketika aku berbalik, Ocha berdiri di depanku dengan wajah tertunduk.

Ocha masih mengenakan pakaian kerjanya, rok selutut yang agak ketat, dengan blouse warna cerahnya. Blazer kerjanya telah diganti dengan cardigan berwarna merah hati.

Kita ngobrol di teras aja ya, Cha kataku.

Boleh, Mas kata Ocha. Kemudian dia minta izin untuk mematikan semua lampu yang ada termasuk lampu teras, dan hanya menyisakan lampu di atas pintu masuk yang hidup. Kini kamarku jadi temaram, termasuk terasnya yang kini juga agak gelap, aman dari pandangan orang dari luar.

Aku duduk di bangku yang ada di teras, mengangkat kakiku santai ke railing dan menyalakan rokokku. Ocha pamit sebentar membuatkan minuman yang tersedia di pantry kecil fasilitas kamar. Tak lama kemudian, Ocha duduk di sebelahku setelah meletakkan minuman yang dibuatnya di atas meja, dua gelas teh panas.

Silahkan diminum, Mas Kalo rasanya kurang manis bilang aja biar Ocha tambah gulanya

Makasih, Cha jawabku sambil mencicipi teh buatannya. Pas, kok

Ocha tersenyum, walau suasana temaram aku masih bisa melihat wajahnya yang tersenyum, dan aku bisa melihat ada raut gundah disana, berbeda jauh dengan ceria yang tunjukkannya tadi di lounge.

Kami terdiam beberapa saat, menatap langit kota Palembang yang malam itu tampak mendung walau masih menyisakan sedikit bintang. Khas langit di bulan November.

Mas panggil Ocha sambil menatapku.

Ya. Aku menoleh, balas menatap Ocha.

Apa yang ada dipikiran Mas saat ini, tentang Ocha yang malam-malam datang ke kamar Mas padahal kita baru aja kenal, tukeran nomer hape juga tadi karena masalah kerjaan katanya lirih. dan belum satu jam, sekarang sudah di kamar Mas

Yang Mas pikirkan tentang Ocha? tanyaku. Gak ada, tuh Biasa aja

Mas pasti mikirnya Ocha ini perempuan gak bener, nyamperin tamu hotel malem-malem.

Aku tersenyum sambil menatap Ocha ke dalam matanya. Aku bisa merasakan Ocha merasa sangat canggung saat ini. Mungkin ini adalah pengalaman pertama buat Ocha mendatangi tamu hotel tempatnya bekerja, malam hari pula, bahkan setelah jam kerja. Jika ini bukan pengalaman pertama, maka perbuatan ini bisa dibilang baru beberapa kali Ocha lakukan, atau bisa juga jarang dia lakukan, aku tak bisa menebak yang mana. Bisa jadi ada sebuah jasa yang ingin Ocha tawarkan padaku. Tapi rasa canggung dan ragu yang begitu terasa dari diri Ocha, membuatku tak mau gegabah menuduh Ocha sebagai player berkedok resepsionis. Aku ingin mendengarkan Ocha dulu, tak berani menuduhnya yang tidak-tidak. Bahkan rasanya, tak tega walau hanya sekedar berprasangka

Ceritalah Mas akan dengarkan kataku padanya sambil tersenyum.

Sebelumnya, Ocha benar-benar minta maaf, Mas kata Ocha perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kemudian dengan perlahan Ocha mulai menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Ocha adalah perantau di Palembang ini, dan kost di sekitar perumahan Takeda. Asalnya dari ibukota Propinsi Bangka Belitung. Ayahnya sudah tiada, dan Ocha bersama seorang kakaknya menjadi tulang punggung keluarga menghidupi ibu dan dua orang adiknya. Setiap bulan Ocha rutin mengirimkan sebagian uang gajinya kepada ibunya.

Ocha sudah punya pacar, bekerja di Jakarta sebagai pegawai sebuah stasiun televisi swasta nasional. Mereka berencana akan menikah setahun lagi. Kedua keluarga besar sudah setuju dengan hubungan mereka, dan mereka juga saling mencintai.

Telepon yang diterima Ocha tadi, adalah dari pacarnya. Ocha menceritakan bahwa isi percakapannya tadi, intinya pacarnya meminta bantuan Ocha untuk mengirimkan uang sebesar lima juta rupiah. Pacarnya mengalami musibah, saat mengendarai mobil kantornya, dia menabrak seorang pengendara motor hingga terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit. Rupanya si korban sampai harus di operasi saat itu juga, dan seluruh uang pacarnya berikut pinjamannya sudah habis buat membiayai rumah sakit, namun masih kurang. Itu lah kenapa dia tadi sampai menelpon Ocha, jika sekiranya Ocha ada uang lebih.

Tapi Ocha bilang, dia baru saja gajian dan sudah mengirimkan kepada ibunya, sementara sisanya dia sudah gunakan buat bayar kost dan untuk akomodasinya sampai gajian berikutnya. Intinya, Ocha saat ini tak ada uang berlebih. Sementara untuk meminjam pada teman kerjanya, Ocha merasa malu untuk melakukannya. Karena beberapa kali temannya pernah mencoba meminjam uang Ocha, tapi karena pengeluaran Ocha sudah jelas kemana dan hanya pas saja untuk keperluannya sehari-hari, maka Ocha tak pernah bisa membantu temannya. Sebab ini pula yang membuat Ocha tak berani meminjam karena merasa tak pernah bisa membantu memberikan pinjaman pada temannya yang lain. Aku bisa memahami.

Sekiranya Mas percaya sama Ocha, dan jika saat ini kebenaran Mas ada uang lebih sebesar lima juta, Ocha ingin pinjam dari Mas, karena jika bisa Ocha ingin mengirimkannya saat ini juga, dia sangat memerlukannya saat ini supaya keluarga korban tidak menuntutnya secara hukum karena ada itikad baik dari dia. Besok Ocha akan jual motor Ocha dan ada sedikit perhiasan emas yang bisa Ocha jual, jadi besok sore Ocha sudah bisa mengembalikan uang Mas Raka kata Ocha sambil berlinang air mata.

Entah kenapa, aku merasa Ocha jujur. Aku sama sekali tak ada firasat Ocha bercerita bohong. Aku begitu tersentuh dengan pengakuannya pada masalah yang dihadapinya. Aku juga tidak berprasangka buruk Ocha akan menipuku. Aku sangat ingin bisa membantu Ocha.

Bisa, Cha Mas akan bantu Mana rekening pacar Ocha?

Ocha tampak sangat terkejut. Tak menyangka aku akan begitu mudah percaya padanya.

Mas Raka yakin? Mas Raka percaya ama Ocha? tanyanya menatapku antara tak percaya bercampur senang karena begitu mudahnya dia mendapatkan solusi untuk masalahnya malam ini.

Mas Raka percaya ama Ocha jawabku sambil tersenyum.

Walau kita baru kenalan, Mas?

Iya Ocha juga baru kenal Mas Raka malam ini, tapi sudah percaya ama Mas untuk berbagi masalah yang sedang Ocha hadapi

Makasih banyak, Mas Makasih banyak Ocha samasekali gak nyangka akan terbantu secepat ini, apalagi yang membantu adalah Mas yang baru Ocha kenal. Terus terang tadi Ocha kalut banget, bingung mau cari dimana uang sebanyak itu malam-malam begini. Tadi ragu banget mau menghubungi Mas Raka, takut banget Ocha ditertawai atau dibilang gak mikir Tapi ternyata Tuhan membuat Ocha berani menghubungi Mas karena ternyata Mas lah yang menjadi penyelamat Ocha

Aku tersenyum menatap gadis cantik yang ada dihadapanku, yang berbicara sambil menatapku lekat, suaranya bergetar berlinang air mata. Aku semakin yakin dan percaya, Ocha tak akan menipuku.

Haisshhh Segitunya Mas merasa senang jika Mas bisa bantu Ocha Jangan tanya alasannya, Mas juga gak tau Yang jelas, Mas percaya sama Ocha. Memang kita baru kenal, tapi gak tau kenapa Mas percaya banget ama Ocha Semoga apa yang Mas lakukan ini benar, dan bisa mengeluarkan kamu dari kesulitanmu. Ada sebagian dari diri Mas yang kasih warning, tapi sudahlah Mas lebih memilih untuk percaya padamu dan membantumu kataku pada Ocha.

Ocha bangkit dari kursinya, dan berlutut di depanku. Tangannya meraih telapak tanganku dan menciuminya. Makasih banyak Mas Makasih banyak

Aku segera berdiri dan menarik Ocha agar segera berdiri. Heeeyyy Kok jadi sungkeman gini Emangnya lebaraaan. Kataku bercanda sambil tertawa.

Ocha masih sesugukan walau dia tertawa juga karena candaanku. Lalu kami kembali duduk, dan Ocha bercerita banyak hal tentang dirinya.

Mas, Ocha numpang mandi disini aja, boleh ya Gerah juga nih, habis kerja belum sempat mandi

Silakan Cha Mas mau santai aja disini dulu

Ocha kemudian masuk ke kamar, dia tetap membiarkan cahaya kamar tetap temaram sebelum masuk ke kamar mandi. Sekitar setengah jam, Ocha sudah selesai mandi, segar sekali tampaknya dia. Dia mengenakan jubah mandi hotel yang bahannya kaos berbulu seperti handuk. Segar, dan terlihat seksi.

Yang habis mandi seger banget keliatannya Keluar cantiknya godaku dan langsung tangan dicubit oleh Ocha.

Maaf ya mas, Ocha pake baju mandinya Tapi tadi Ocha udah pesan ke bawah buat anterin satu lagi

Sekalian telponin ke kitchen, Cha Mas laper nih Ocha makan juga, ya

Boleh, Mas Mas mau makan apa?

Nasi goreng aja deh..,. Pilihin yang enak, ya

Oke, Mas kata Ocha sambil beranjak ke dalam dan menelpon kitchen untuk memesan makanan. Lalu dia kembali lagi ke teras dan kami kembali ngobrol ngalor ngidul. Tak lama kemudian pesanan makanan datang bersamaan dengan tambahan baju mandi. Ocha terpaksa harus sembunyi ketika petugas room service mengantarkan itu semua. Kemudian kami makan bersama, dan setelah selesai Ocha kembali membuatkan teh panas buat teman kami ngobrol.

Mas, Ocha nginep di sini aja boleh gak Udah kemaleman tapi Ocha merasa betah banget nih ngobrol sama Mas

Boleh aja, Cha Tapi ranjangnya single bed gini, gimana?

Kalo Mas gak keberatan, Ocha gak apa kok, Mas Lagian Ocha tidurnya gak ngabisin tempat, kok hehe

Ya udah kalo gitu Mas udah ngantuk, nih Mas tidur duluan ya.

Iya Mas Silakan duluan Ocha mau ke kamar mandi dulu.

Aku lalu masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah selesai, Ocha gantian masuk kamar mandi. Aku menyiapkan kaos dan celana pendek gombrong, sekiranya Ocha mau memakainya karena sejak tadi dia tetap memakai jubah mandi.

Cha Mau pake kaos dan celana pendek milik Mas, gak? Buat kamu tidur? kataku padanya yang masih di kamar mandi.

Boleh, Mas. jawab Ocha dari dalam kamar mandi.

Tak lama kemudian Ocha keluar dari kamar mandi, masih mengenakan jubah mandi tadi. Aku menyerahkan kaos dan celana pendek itu padanya.

Aduh jadi ngerepotin banget nih mas. Katanya menerima kaos yang aku berikan.

Mata Ocha menatap lekat ke mataku. Tangan kami yang masih saling menjulur karena penyerahan kaos itu, terdiam sejenak. Aku menatap wajah cantik gadis berkulit putih dihadapanku ini, mengagumi kebersihan kulit wajahnya yang tanpa polesan make up, bersih karena baru cuci muka.

Tangan Ocha melepaskan kaos yang aku ulurkan, hingga jatuh ke lantai. Tangannya meraih tanganku, dan merapatkan tubuhnya ke tubuhku.

Mas. Desahnya lirih sambil menatapku.

Cha jawabku semakin mendekatkan diriku padanya.

Ocha dengan perlahan meraih pinggangku, dan memelukku erat. Tinggi kami yang hampir sama membuat aku dapat memeluk Ocha dengan sempurna. Ocha merebahkan kepalanya di pundakku.

Ocha masih gak percaya bisa dibantu ama Mas Raka bisiknya tepat di telingaku, meninggalkan rona geli membuat bulu kudukku meremang. Sekali lagi makasih banyak ya, Mas

Aku membelai rambutnya, dan menempelkan pipiku di pipinya. Sama-sama, Cha Mas juga bahagia bisa ngebantu Ocha

Tangan kananku membelai rambutnya, sementara tangan kiriku memeluk pinggangnya yang ramping. Wajah Ocha bersandar di pundak kiriku. Cukup lama kami berada di posisi ini.

Ocha kemudian menatapku, dan aku mendekatkan keningku hingga menempel ke kening Ocha. Mata kami masih lekat saling menatap, dan aku melihat mata Ocha semakin sayu, bibirnya sedikit terbuka. Pinggulnya bergerak semakin rapat padaku, membuatku yakin Ocha dapat merasakan kekerasanku di bawah sana. Aku semakin erat memeluk pinggangnya, melekatkan tubuh kami berdua.

Aku bergerak, memberikan sekilas kecupan di keningnya untuk kemudian menempelkan lagi keningku ke keningnya. Ocha sejenak terpejam merasakan kecupanku.

Mas. Bisiknya pelan.

Aku mengecup bibirnya dengan lembut, Ocha semakin menengadahkan kepalanya. Wajahnya kini agak miring ke kiri, memberi ruang bagi bibir kami untuk saling mencium. Bibirnya menggigit lembut bibirku, aku membalasnya dengan kecupan yang sama lembutnya. Tangan kananku hinggap di pinggulnya. entah dia sadar atau tidak, yang jelas Ocha diam saja. Desahan nafasnya bagai background music yang indah bagiku dan tanganku yang mulai meremas, dan meraba wilayah pinggul indah itu.

Ocha semakin erat memelukku.
Mas… desahnya. Matanya semakin terpejam.

Aku tersenyum dan sambil terus meremas pinggulnya. Kali ini agak ke bawah, aku meremas lembut buah pantatnya yang sekal bulat menantang. Aku raih bagian belakang lehernya, agar aku semakin dapat melumat bibirnya semakin dalam. Kujejali mulutnya dengan lidahku, bergerak menyapu permukaan bibirnya, dan menerobos masuk menjilati gigi dan gusinya. Lidah Ocha bergerak menyambut gerakan lidahku, membelit dengan lembut. Nafas kami semakin memburu karena ciuman yang semakin bergairah. Aku kemudian mengusap punggungnya, dari leher ke arah pantat. Aku tak merasakan ada ganjalan dari pakaian dalam dibalik jubah mandi itu.

Ocha mulai bergerak, mendorong tubuhku dengan perlahan hingga akhirnya aku terjatuh telentang di atas kasur dengan tetap memeluk Ocha yang kini dengan sempurna menindihku. Kami lanjutkan ciuman bibir kami yang sempat terlepas saat aku terjerembab tadi.

Kedua tangan Ocha meremas rambutku penuh gairah, wajahnya bergerak memberikan ciuman terbaiknya. Sementara aku masih memeluknya erat, mengusap apa saja yang bisa aku raih dengan tanganku.

Ocha kemudian melepaskan lumatannya, menatapku sayu penuh gairah.

Mas, miliki Ocha malam ini. Desahnya sambil menatapku sayu. Ocha milik Mas malam ini

Ocha yakin? tanyaku padanya. Kita gak harus seperti ini juga, Cha, jika ini Ocha anggap sebagai balasan karena bantuan Mas

Bukan, Mas Ocha mau begini dengan Mas karena Ocha benar-benar tersentuh karena kebaikan Mas pada Ocha Perbuatan Mas yang langsung percaya dan membantu Ocha benar-benar membuat Ocha tersanjung Mas udah menunjukkan kalo Mas begitu baik, Ocha jadi merasa sayang ama Mas, seperti yang sudah kenal lama Jadinya ingin bisa selalu dekat dan merasakan kebaikan Mas bisiknya lirih. Ocha beruntung banget bertemu dengan Mas

Ocha kemudian duduk di atas tubuhku, tangannya bergerak membuka ikatan jubah mandi yang dikenakannya. Tanganku bergerak ke bahunya, menyingkap jubah mandi itu dengan perlahan. Ikatannya sudah terurai, dan Ocha terdiam menantiku. Aku mengusapkan telapak tanganku disepanjang garis pundaknya, meremasnya pelan sambil menurunkan jubah mandi itu.

Tanganku kini sampai di dadanya, mengusapnya dengan lembut. Ocha menatapku sayu, dan dengan sedikit goyangan bahunya, jubah itu kini telah terhampar, berkumpul di pinggulnya. Kini mataku dimanjakan dengan sepasang payudara yang begitu putih, bulat menantang, dengan puting mungil berwarna merah muda. Amazing view.

Ocha mendesah ketika telapak tanganku menggenggam buah dadanya dari bawah, meremasnya ke arah atas dan langsung memijat putingnya. Aku meremas buah dada itu dengan lembut, dan Ocha semakin membara dibuatnya. Pinggulnya mulai bergoyang, menggesek penisku yang berada tepat dibawahnya. Tanganku lalu menyusuri perutnya, ke pinggangnya dan meremas pinggul aduhai itu. Ocha kemudian rebah ke arahku, bibirnya kembali memagut bibirku dengan penuh gelora. Ocha kemudian membuka jubah mandinya dan melemparkannya ke lantai, lalu membantuku melepas semua pakaian yang masih aku kenakan. Dalam sekejab kami berdua sudah telanjang bulat.

Aku balikkan tubuhnya, kini Ocha tengkurap dengan bertumpu pada siku lengannya. Tanganku menyusup ke bawah badannya menggapai payudaranya, meremas daging yang kini telah mengeras kenyal. Ocha kembali mendesah. Aku tekan penisku yang telah mengeras kaku ke belahan pinggulnya, dan kurapatkan dadaku ke punggungnya. terasa Ocha bergerak gerak, pinggulnya menggelinjang karena penisku menekan belahan pantatnya, dan kami kini telah saling bergesekan.

Aku mulai menciumi tengkuknya, menjilati hingga ke telinganya lalu aku ciumi seluruh pundak dan punggungnya. Ocha terus mendesah lembut sambil menggelinjang. Kini aku sudah menciumi pinggulnya menjilati sambil menyusupkan lidahku ke belahan pantatnya. Pinggul Ocha sampai terangkat, membuatku semakin bisa mengolah bagian itu dengan lidahku. Ciumanku terus ke arah pantatnya, lalu turun ke kaki sebelah kiri hingga ke betisnya, dan pindah ke kaki kanan, naik lagi hingga ke pantatnya. Dengan kedua tanganku, aku menarik Ocha hingga menungging.

Segera lidah dan bibirku menyerbu liang senggamanya dari belakang. Aku jilati vaginanya sambil aku cucuk liangnya dengan lidahku, kemudian menyapu dengan keras klitorisnya dan naik hingga menjilati anusnya. Begitu terus berulang ulang, Ocha semakin keras mendesah dan gelinjang pinggulnya semakin keras. Vaginanya kini membanjir, menyeruakkan wangi khas vagina yang sangat aku suka. Aku jilati vaginanya dengan penuh nafsu, hingga Ocha mengejang melepas orgasmenya hanya dari 30 menit aku oral vaginanya.

Tubuhnya kini terhempas dengan nafas memburu. Aku mendekapnya dari belakang, menciumi tengkuknya sambil membelai bagian depan tubuhnya, dari dada hingga ke perut. Jariku sampai di klitorisnya, dan mengusapnya dengan lembut. Ocha kembali melenguh keras, kepalanya menoleh ke arahku mencari bibirku dan melumatnya. Kini Ocha tidur telentang, aku tidur di sisinya dengan tangan terus membelai vaginanya.

Ooh.. Mas Raka Nikmat sekali. desahnya lirih, dan kami beristirahat sejenak. Ocha kemudian bangkit dan mengambil air dingin dari kulkas, dan memberikannya padaku setelah dia meminum beberapa teguk.

Sekarang, giliran Ocha ya katanya sambil melirik nakal kepadaku.

Ocha merangkak ke atas tubuhku, memberikan ciuman pada bibirku dan melumatnya dengan lembut. Aku membalas pagutannya, sebelum kemudian Ocha mulai menciumi leherku, telingaku, dan kemudian melumat puting dadaku dengan lembut.

Ciuman Ocha semakin turun dan mendekati penisku yang sudah mengacung tegak. Digenggamnya penisku dan dikocoknya dengan lembut. Bibirnya membuka dan langsung menghisap buah zakarku. Dikulumnya dan dielus dengan lidahnya, berganti antara bola kiri dan kanan.

Dengan gerakan menjilat dari pangkal, lidah Ocha naik turun membelai batang penisku. Pada kesempatan terakhir bibirnya membuka dan melahap kepala penis, sambil melirikku yang terus menatapnya. Kepalaku terhempas ke belakang karena nikmatnya kuluman Ocha, hisapannya yang lembut namun mantap. Aku sampai meremas rambutnya dengan gemas.

Gerakan lidah Ocha yang membelai penisku yang berada dalam mulutnya, dikombinasikan dengan gerakan naik turun yang perlahan. Aku mendesah habis-habisan, tak terkira nikmat yang Ocha berikan. Sesekali Ocha membenamkan penisku dalam-dalam hingga ke tenggorokannya, menahannya lama untuk kemudian melepaskannya dengan hembusan nafas hangat yang keras. Aku kelojotan dibuatnya.

Tak tahan dengan kenikmatan oral yang diberikan Ocha, aku segera meraih tubuhnya, dan memposisikannya telentang di bawahku. Segera aku melumat bibirnya, sementara Ocha menyilangkan kakinya mengait dibelakang pantatku dan mulai menekan. Aku arahkan kepala penisku ke vaginanya, menggesek dan menekan klitoris dan sesekali menekan masuk ke liang vaginanya sedikit. Tindakanku ini membuat Ocha semakin terbakar birahinya, kakinya mulai menekan pinggulku, membelit makin erat berharap aku segera memaksimalkan penetrasi.

Aku menatap Ocha, dan Ocha membalasnya dengan senyuman.

Lakukanlah, Mas Milikilah Ocha malam ini desahnya sambil tersenyum menatapku.

Mata Ocha terpejam dan bibirnya mendesah penuh nikmat ketika kepala penisku mulai membelah liang vaginanya. Aku memasuki Ocha dengan perlahan, memberikan sensasi gesekan yang terasa panjang dan lama. Untunglah penisku memiliki ukuran yang dapat memberikan kenikmatan maksimal pada Ocha.

Akhirnya kepala penisku menabrak sebentuk dinding lembut, dan tak bisa aku tekan lebih dalam lagi. Semakin aku coba menekan, kepala Ocha akan terdongak kebelakang. Desahannya semakin keras terdengar.

Oooh Maaassss. Mentoook.! desahnya keras. Semakin aku menekan, semakin tertengadah Ocha di buatnya. Matanya membeliak hingga terlihat hanya bagian putih bola matanya saja.

Sambil menekan dengan lembut, aku menciumi leher Ocha. Ocha semakin memperdengarkan desahan penuh nikmatnya. Kakinya membelit erat bagian bawah pantatku, manarik dan melemaskannya berkali kali, hingga dengan sendirinya penisku maju mundur dalam vaginanya. Aku mulai menegakkan tubuhku, melepaskan belitan kaki Ocha dan mengangkatnya ke atas bahuku. Tanganku meraih payudaranya dan meremasnya dengan erat.

Pinggulku mulai aku hentakkan ke depan dan ke belakang. Ocha kini mulai terpekik lirih, melenguh pelan. Semakin lama kau memacunya dengan gerakan ini, semakin erat jepitan betisnya di kepalaku. Ocha tetap mengeluarkan suara lirih, rupanya dia tak suka dengan jeritan penuh nafsu seperti film porno.

Tanganku meraih kedua kaki Ocha dan meletakkannya di sisi kiri tubuhku, kini pinggul Ocha mulai menyamping, sehingga aku semakin bebas mendera vaginanya dengan penisku. Aku meraih pinggulnya dan agak mengangkatnya, kini posisi kami lebih mirip doggy style tapi masih menyamping, belum tegak lurus dari belakang. Posisi ini sungguh nikmat bagiku dan Ocha.

Ooohhh Maaasss Nikmat banget Mas Terus Maasss Ahhh. Ahhh. Hhhmmmmmh. Desah Ocha sambil berusaha menggoyangkan pinggulnya. Aku semakin mempercepat kocokanku.

Kaki Ocha berusaha menyelusup ke bawah tubuhku, aku mengatur posisinya hingga Ocha kini terbaring tengkurap, tanpa melepaskan tautan alat kelamin kami. Ocha sedikit agak menjengitkan pantatnya, dan aku kembali memacu penisku menghujam vaginanya dari belakang. Ocha sampai meremasi seprai dengan kuat, jeritannya dibenamkan ke bantal. Aku menggenggam buah pantatnya yang sekal, dan berpegangan di sana sebagai titik tumpu pacuan penisku.

Tak lama kemudian, aku menarik pinggul Ocha, dan memposisikannya pada posisi true doggy. Kembali Ocha melenguh keras, membalas goyangan pinggulku dengan arah berlawanan. Aku semakin cepat merojok vagina Ocha sampai bagian terdalam. Tanganku meraih payudaranya dan meremasnya. Ocha semakin sering mendesah, semakin keras melenguh.

Mas, dikit lagi maasss Ocha mau nyampeee. desahnya padaku.

Tetap begini atau ganti posisi, Cha? tanyaku pada posisi yang paling disukainya saat melepas orgasme.

Ocha begerak, menjulurkan kakinya hingga lurus ke belakangku. Badanku sampai terdorong ke belakang, dan akhirnya tubuhku terjerembab terlentang. Aku meluruskan kakiku ke sisi tubuh Ocha, untungnya panjang penisku memcukupi hingga gerakan kami ini tak sampai membuat penisku terlepas dari vagina Ocha. Kini posisi Ocha setengah merangkak, dengan cepat Ocha menggerakkan pantatnya menggerus penisku yang masih menancap dari bawah. Semakin lama semakin lama gerakannya semakin cepat, hingga akhirnya aku bisa menyaksikan pantat Ocha bergetar keras, dan aku juga bisa melihat cairan cintanya merembes membasahi batang penisku.

Penisku makin menegang, mendongkrak dengan keras dinding vagina Ocha di arah tulang punggungnya. Aku tadinya mengira GSpot Ocha berada di bagian vagina sebelah atas yang mengarah ke perutnya, ternyata lebih sensitif yang berada di sisi sebaliknya. Tampaknya, kenikmatan yang diperoleh Ocha berhasil diraihnya dengan sempurna. Ocha sampai tertelungkup dengan lemas di antara kangkangan kakiku. Aku duduk dan meraih buah pantatnya, dan meremasnya dengan lembut.

Hhhmmmm. Maaasss. Hhhh. desah Ocha penuh kenikmatan.

Enak, Cha?

Bangeeethhhh..

Malam itu kami meneruskan persutubuhan kami hingga jam 2 dini hari. Aku meraih dua kali orgasme, sementara Ocha entah berapa kali. Akhirnya kami tidur berpelukan dalam selimut, kelelahan dalam nikmat.

-oOo-

Aku terbangun ketika matahari sudah bergerak dari sisi terbitnya, terjaga dalam kenikmatan wangi kopi dan denting gelas yang sedang di aduk oleh Ocha. Dia kembali dalam balutan jubah mandi, tampak segar. Rupanya dia sudah terbangun lebih dahulu dan langsung mandi. Rambutnya tergelung handuk.

Waah.. Sudah mandi besar, neh sapaku membuat Ocha menoleh dan tersenyum manis padaku.

Ocha membawa dua gelas kopi dan meletakkannya di nakas. Lalu dia duduk disisi ranjang dan mengecup bibirku.

Pagi, mas. Nyenyak tidurnya.? Sapanya tersenyum.

Nyenyak banget.

Tangan Ocha menelusup ke dalam selimut dan meraih penisku. Rasa geli yang teramat nikmat segera menjalar karena penisku yang mengeras karena baru bangun dan menahan kencing.

Chaaa Mas nanti ngompol, lhooo. Kalo mau nambah biarkan Mas pipis dulu ya

Iiih siapa yang mau nambah Ocha cuma mau menyapa aja kok Menyapa si ganteng yang udah bikin Ocha kelojotan tadi malem katanya menggodaku, semakin cepat mengocok penisku dan membelai kepalanya dengan ibujarinya. Aku segera kabur ke kamar mandi.

Tak lama kemudian, aku selesai mandi dan mengenakan jubah mandi yang satu lagi. Ocha sudah duduk di teras, kedua gelas kopi sudah ada disana dan piring berisi roti tawar yang sudah dioles selai coklat. Aku duduk di sampingnya dan mulai menikmati kopiku.

Ocha mau segera pamit, Mas Biar ada waktu untuk mencari dana supaya bisa mulangin uang Mas Raka seandainya Mas jadi check out siang nanti. katanya padaku.

Santai aja, Cha Gak usah buru-buru. Itu gak mendesak, kok Nanti aja kalo Ocha udah ada gantinya, baru Ocha kirim ke Mas Gak perlu sampai jual motor atau yang lainnya

Ocha menatapku lekat-lekat. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang seperti tak percaya.

Tapi kan Ocha udah janji, Mas

Udah gak usah di pikirin tukasku. Kapan Ocha ada uang lebih, baru ganti uang Mas kataku sambil tersenyum padanya.

Ocha bangkit, dan kemudian melangkahi kakiku dan duduk dipangkuanku. Segera dia memelukku.

Makasih, Mas Ocha semakin gak nyangka ternyata Mas Raka baik banget ama Ocha

Aku balas memeluknya, dan Ocha segera melumat bibirku. Tangannya membimbing tanganku untuk meremas payudaranya.

Pagi itu, kami melakukannya lagi, dan meraih orgasme bersama di kursi teras kamar hotel lantai 8 dalam posisi women on top.

Author: 

Related Posts